SELAMAT DATANG
image

JOKO EDAN

08122909403


JL. Karanganyar Raya No. 7 Pudakpayung
BANYUMANIK - SEMARANG
INDONESIA

"NDANG MULIHO, SRI...."

Wayang Kulit

Dikisahkan, Amarta, negeri para Pandawa, terpuruk dalam krisis berkepanjangan. Kejahatan merajalela. Kekacauan pecah di mana-mana. Korupsi menista negara. Panen gagal, penyakit dan kelaparan pun mendera.

Di istana, raja dan punggawanya kebingungan mesti berbuat apa. Hingga suatu ketika, Prabu Kresna, sepupu Pandawa, berpesan kepada Yudistira, Raja Amarta, agar mencari Sang Hyang Sri. Hanya kedatangan Sri yang bisa mengembalikan kesejahteraan Amarta.

Semua kesatria terbaik Pandawa dikerahkan untuk menemukan Sri. Akan tetapi, jalan pencarian tak pernah mudah. Para penguasa negeri angkara menghadang tak terbilang. Kesatria pilih tanding seperti Gatotkaca, Setyaki, bahkan Arjuna pun tunggang langgang. "Hanya kesatria yang masih suci, bernurani, dan berani yang dapat membawa Sri pulang" pesan Kresna.

Diutuslah Bambang Probo Kusumo, satria muda putra Arjuna, memenuhi misi itu. Melalui perjuangan berat, Bambang pun sukses membawa Sri ke Amarta. Sri mulih dan Amarta kembali pulih.

Itulah sepenggal kisah pewayangan "Sri Mulih" yang dimainkan dalang Ki Joko Edan dalam pertunjukan wayang kulit di GOR Satria, Purwokerto, Minggu (1/8).

"Sri Mulih" atau kadang juga disebut "Sri Boyong" sesungguhnya bukanlah lakon biasa dalam pertunjukan seni wayang kulit. Umumnya, Sri Mulih dimainkan sebagai bagian ritual bersih desa.

Sri adalah Dewi Sri atau Sang Hyang Sri. Dialah dewi kesejahteraan. Dalam kultur agraris Jawa, Sri dipercaya sebagai dewi kesuburan. Padi tak akan tumbuh sempurna tanpa kuasanya.

Budaya Jawa kaya akan simbol. Sri adalah simbol besar tentang harapan kesejahteraan untuk dunia kawula (petani) maupun negara. "Sri itu sosok perempuan yang menjadi simbol ketenteraman rakyat dan negara," kata Ki Joko.

Simbol tersebut harus dipahami dalam konteks yang lebih filosofis dan penuh dengan penanda. Dahulu, petani percaya harus membawa padi hasil panen ke rumah terlebih dahulu sebelum pulang. Menjual hasil panen di sawah akan menjauhkan dari kesejahteraan.

Dalam tataran logika, hal itu logis. Mengijon padi hanya akan menguntungkan tengkulak. Tidak saja karena petani belum tahu harga padi tetapi juga harga padi basah tentu lebih murah. Maka di tingkat awam pun muncul istilah "Sri Mulih". Bawalah padi (jelmaan Sri) pulang. Sebuah mitos luhur yang kini justru dilupakan petani di Jawa saat hantu kapitalisme dan industrialisasi mencengkeram erat sektor pertanian.

Di tingkat negara, Sri juga simbol kesejahteraan. Hanya dengan jiwa yang bersih, nurani yang jernih, dan keberanian, kesejahteraan negara teraih. Dalam pertunjukan malam itu, perjuangan ini disimbolkan dengan sosok Bambang Probo Kusumo.

Sebuah makna filosofis yang mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Lakon wayang kulit malam itu seolah mengingatkan kita agar kembali ke kejernihan nurani, kesucian hati, serta keberanian agar Sri bisa mulih dan Indonesia pun pulih. (M Burhanudin) Rabu, 4 Agustus 2010

Thu, 16 Feb 2012 @14:29


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+8+2

Copyright © 2014 www.harissemarang.com, o8122551665 · All Rights Reserved