SELAMAT DATANG
image

JOKO EDAN

024 7475440


JL. HULU G - 136 PERUM PAYUNG MAS
PUDAK PAYUNG - SEMARANG
INDONESIA

HARLAH KI JOKO EDAN

Wargasoreng Lemahireng pada tanggal 20 mei 2013 kemarin menghadiri hari ulang tahun Dalang kondang dari Kota Semarang yaitu Ki Joko Hadiwijoyo atau lebih akrab di telinga masyarakat umum Ki Joko Edan.

selengkapnya...

Thu, 6 Feb 2014 @15:48

Ki H Djoko Hadiwijoyo "Kepercayaan yang hilang"

Ki H Djoko Hadiwijoyo

Kepercayaan yang hilang

Soal percaya mempercayai, sosok dalang yang satu ini punya pakem percaya tanpa reserve. Artinya, mempercayai ya percaya sepenuh hati  tanpa menyisakan sedikitpun rasa ragu. Sebab, kepercayaan itu amanah yang semestinya setiap yang mendapat kepercayaan akan melaksanakan dengan lurus dan menjaga kepercayaan  itu sepenuh  hati. Jadi, soal percaya mempercayai  sudah menjadi nafas kepribadian dan  karakternya. Profesinya sebagai dalang yang berkreasi memberikan tontonan dan tuntunan dengan menghimpun banyak seniman, kata kunci sukses yang membuatnya bertahan dicintai masyarakat hingga sekarang  adalah menjaga kepercayaan.

Dalam bahasa wayang,   menurut Ki H Djoko Hadiwijoyo, sang dalang edan  satu-satunya di Indonesia ini; “Kepercayaan adalah  sebuah amanah yang harus dilaksanakan dan dijaga siapa saja yang mendapatkannya. Jika tidak dilaksanakan dan dijaga, maka kepercayaan atau amanah itu menjadi sebuah perkara. Bahkan,  terjadinya perang dalam lakon  BarataYudha disebabkan oleh kepercayaan yang hilang. Jadi jangan pernah sampai mengkhianati kepercayaan, jangan pernah mengkhianati amanah.”

Menurutnya, puluhan tahun mendalang menyuguhkan  berbagai lakon wayang kulit yang berelevansi dengan kondisi lingkungan masyarakatnya, telah merajutkan  benang merah pencerahan dan permenungan dalam hidup dan kehidupannya, bahwa modal utama hidup manusia adalah percaya, percaya pada Tuhan Yang Maha Esa dan percaya kepada sesama. Rasa percaya   itu menyatukan manusia, menyatukan sebuah keluarga, sebuah bangsa dan negara, bahkan menyatukan dunia.

“Rasa percaya adalah modal untuk bisa menciptakan dan memajukan sebuah usaha apa pun itu. Melaksanakan apa yang telah dipercaya dan memperjuangkannya dilandasi ketulusan dan keterbukaan, maka akan bisa memajukan usaha apa saja yang diperjuangkannya itu. Bahkan sebuah   yayasan sekecil apapun   yang pengelolanya menjaga amanah dan terbuka  pasti bisa mengembang   tujuan misi visinya. Sebaliknya, apabila pengelolanya dirasuki niat meyulap apa saja, terutama  aset yang berkait sejarah berdirinya yayasan itu, sudah pasti sejarah itu sendiri yang akan menghukumnya. Ingat ‘Jasmerah’, jangan sampai melupakan sejarah,   jangan sampai memusnahkan sejarah,” ungkap Ki Djoko Hadiwijoyo belum lama ini dalam acara sambung rasa dengan ulama dan tokoh masyarakat di padepokan  Durian Semarang.

Lebih jauh, Ki Dalang yang makin menep rasa ini benar-benar bak Ki Semar saja yang andap asor, menang tanpa  ngasorake, nglurug tanpa bala, sekti tanpa aji,   banter ora ndisiki, pinter ora ngguroni, landep ora natoni, mengatakan organisasi yayasan, negara, bahkan dunia, semua harus dikelola secara benar. Pencanangan program, pelaksanaan program dan manajemennya harus dilakukan dengan santun terbuka, tepat guna. Pelaksanaan program harus menjadi laporan para pelaksananya kepada pendiri dan pembina tanpa atau melalui rapat.

“Namun afdolnya niat mengelola semua itu adalah demi Allah, bukan semata-mata menjadikan diri pribadi beruang. Pendek kata, harus amar maruf nahi munkar,” tambah Ki H Djoko Hadiwijoyo yang menggenggam pengalaman pahit sebagai pendiri yayasan Manarul Mabruur Pudak Payung Semarang.  


 

 

Sat, 11 May 2013 @13:33

Malam ini PAPPRI rayakan Hari Musik

Malam ini PAPPRI  rayakan   Hari Musik

Malam ini penetapan Hari Musik Nasional  tanggal 9 Maret  berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013  akan diperingati   para insan musik  bersama  pengurus   Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Pencipta lagu dan Penata  musik Republik Indonesia  (PAPPRI) Jawa Tengah pada   Selasa 2 April 2013 ditayangkan  on air TVRI Jawa Tengah mulai pukul 20.00 WIB.     Panggung perayaan  yang bertema “Dengan Hari Musik Nasional Kita Tingkatkan Derajat Budaya Indonesia”  ini merupakan pertama kalinya  diselenggarakan sesuai  surat imbauan DPP PAPPRI  tanggal 11 Maret  2013 berlandaskan    Keputusan Presiden Republik Indonesia,   supaya di setiap provinsi  diadakan berbagai kegiatan musik yang bersifat pemberdayaan dalam rangka  apresiasi   musik  demi meningkatkan derajat budaya Indonesia   yang   bermartabat.

Menurut  Ketua   DPD   PAPPRI Jawa Tengah  Ki   H Joko   Hadiwijoyo ,   perayaan   Hari Musik Nasional    yang dimulai tahun 2013   ini akan rutin dilakukan setiap tahun dengan berbagai kegiatan  melibatkan semua unsur   masyarakat dan  seniman dari berbagai aliran musik yang ada di Jawa Tengah.   Pada  tahun  ini kami menampilkan panggung kolaborasi seniman  mulai dari campursari, keroncong, dangdut,  pop,  bahkan jazz,  yang juga   merupakan bagian dari program jangka pendek PAPPRI Jateng.

“ Jadi selaras dengan  maksud dan tujuan imbauan DPP PAPPRI berdasarkan   Keputusan Presiden RI   tersebut, maka   DPD   PAPPRI Jateng  memperingati   Hari Musik Nasional dengan  menggelar pertunjukan ragam musik seperti yang dapat disaksikan pada   Selasa 2 April 2013 pukul 20.00 secara on air di studio TVRI Jawa Tengah. Hari Musik Nasional  tahun ini ditandai pula dengan pelantikan   pengurus DPD   PAPPRI Jawa Tengah  periode 2013-2018   yang   telah lama berkiprah   menggaungkan   seni musik   tidak hanya   saat Hari Musik Nasional. Namun   kami semua   kreator yang berkarya ,   dan di dalam organisasi bekerja sama untuk bisa melaksanakan dan melanjutkan setiap program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan musik  yang bermanfaat bagi individu, lingkungan masyarakat, bangsa dan negara, “ kata Ki H Joko Hadiwijoyo yang beken pula sebagai  dalang Ki Joko Edan.

  Panggung   hiburan perayaan Hari Musik   Nasional   akan   dihadiri Gubernur Provinsi Jateng, H Bibit Waluyo,   Ketua Umum DPP PAPPRI  H Tantowi Yahya, Husain Audah Kabid organisasi dan keanggotaan DPP PAPPRI,  pejabat   instansi   terkait ,  seluruh  pengurus DPD dan DPC-DPC PAPPRI  Jawa Tengah,   serta   para undangan . Dimeriahkan artis-artis  Jawa Tengah antara lain Nurhana, Waljinah, Didik Kempot,  Soleh Akbar, Adira, Nayaka,   dan   Tantowi Yahya .

     

Sat, 11 May 2013 @13:30

Ki Joko Edan di Mapolres Kendal

Ki Joko Edan ‘Ngedan” di Mapolres Kendal

Sat, 11 May 2013 @13:23

warak ngendok, semarang hebat

warak ngendok, semarang hebat

selengkapnya...

Mon, 25 Feb 2013 @12:15

JOKO EDAN BERI BUKTI BUKAN JANJI

Oleh : Anindyalaras
Kesanggupan menerima tawaran sebagai sutradara pagelaran kolosal JAWARANANDA pada pembukaan Pandanaran Art Festival 2012  dikerjakan dengan sepenuh hati. Menyatukan rasa dari empat etnis yang berbeda dengan satu tujuan yaitu Kebersamaan.  Apa jadinya jika empat etnis pembentuk Kota Semarang mejadi satu dan kompak?  Hingar bingar Kota Semarang saat Acara pembukaan “Pandanaran Art Festival 2012”  (15/12) di Jl. Pemuda Semarang  (depan Balai Kota Semarang) ini sebagai bukti. Putra-putri kota Semarang yang terdiri dari empat etnis yang tergabung dalam  kolaborasi seni dan budaya  “Jawarananda” (Jawa Arab China dan Belanda)  mempersembahkan tarian kolosal yang merupakan ekspresi kegembiraan dalam  mewujudkan semangat kebersamaan.  Mereka adalah Etnis Jawa “Tari Semarangan” (Rima, Sely, Anjar, Maya), Etnis Cina “Tari Tangan Seribu” (Vina, Helen, Marry, Joyce, Hanny, Vera, Amelia, Kiky, Leny, Vani, Ima Eunike, Cintami), Arab Tari Sufi ( Nafid & Nidhom), Etnis Belanda “Tari Klompendans” ( Wof, Paula, Maurize, Kasem, Julia, Yohana) dan Tari Warak merupakan pentutup sebagai simbul penyatuan sistem yang dinamis saling memerlukan satu sama lain.
Penampilan kolaborasi seni dan budaya yang paling berpengaruh dalam pembentukan dan perkembangan Kota Semarang  ini di sutradarai oleh seorang dalang Kota Semarang Ki Djoko Hadi Wijoyo Alias “Joko Edan” dan sebagai narator adalah seorang pranatacara Ki Haris Pragota yang juga sebagai sanggar Humas Wijaya Laras.  Tarian  ini menggambarkan kehidupan masyarakat Semarang yang  sadar akan perbedaan sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan merupakan wujud nyata kerukunan, hidup berdampingan menuju kota semarang yang damai.  Konfigurasi gerakan tari ditata penuh dengan makna tanpa meninggalkan identitas dan jatidiri masing-masing etnis. Perpaduan multikultur yang kompak, dinamis serasi dengan busana dan tata panggung, kesan glamor nan eksotik, inilah yang terpancar dari kostum-kostum yang ditampilkan.  Tarian mencerminkan kekayaan budaya Semarang. Banyak tanggapan dari berbagai komunitas, mereka bilang ini adalah media yang luar biasa. Siapa yang menyatu dalam “Jawarananda”  Pandanaran Art Festival 2012, mereka adalah para remaja putra-putri kota Semarang yang sadar akan perbedaan karunia Tuhan yang maha Esa, namun menjadi kekuatan yang luar biasa saat berpadu dalam kebersamaan.

Wed, 26 Dec 2012 @13:55

SEMAR KUNING / WAHYU CAKRANINGRAT di FE UI

 

BEM FE UI bekerja sama dengan Iluni FEUI mengadakan Pagelaran Wayang Kulit mengambil lakon “Semar KuNing (laKu weNing)”. Pagelaran wayang yang didalangi Ki Joko Edan ini digelar di Auditorium Soeriaatmadja FEUI Kampus Depok. Pagelaran dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM FEUI, M. Thanthowy Syamsuddin, dan nyanyian Indonesia Raya oleh hadirin. Setelah itu, digelarlah pertunjukan wayang.

 

Lakon Semar KuNing (laKu weNing) mengisahkan perjuangan Abimanyu, anak Arjuna, untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Barangsiapa memperolehnya, ia akan menjadi raja dan menurunkan raja-raja besar. Cerita diawali dari Abimanyu diperintah oleh Begawan Abiyasa untuk mencari Ki Semar. Tujuan Abimanyu mengunjungi Semar meminta Semar agar mau membimbing sampai mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Lakon ini diakhiri dengan permintaan Semar kepada Abimanyu untuk tetap menjadi Abimanyu yang lurus hatinya sehingga kelak, jika menjadi raja, ia akan menjadi raja yang amanah.

 

Sekilas, pagelaran wayang kulit ini sama seperti pagelaran wayang lainnya. Namun, jika menyaksikan dari awal, akan terlihat ada yang berbeda. Pada awal-awal cerita, Ki Joko Edan mendalang layaknya dalang konvensional, yaitu menggunakan bahasa Jawa kromo. Akan tetapi, setelah setengah jam berlalu, Ki Joko Edan mulai menggunakan bahasa Jawa ngoko. Lalu lama-kelamaan, Ki Joko Edan semakin sering menyisipkan penggunaan bahasa Indonesia. Hal itu dapat dimaklumi karena yang menyaksikan wayang kulit ini tidak semuanya mengerti bahasa Jawa. Jadi, dengan tampilan yang lebih populer, Ki Joko Edan berusaha menunjukkan bahwa wayang kulit bukan hanya milik orang Jawa tetapi sudah mendunia, bahkan dibeberapa pementasan juga disuguhkan dalam bahasa Inggris.

Pagelaran wayang kulit di kampus FE UI, sangat memukau dan animo mahasiswa sangat tingi, bahkan dari awal pementasan sampai akhir mahasiswa- mahasiswi FE UI tidak henti-hentinya memberi applouse. Ternyata wayang kulit mendapat perhatian yang besar di kalangan mahasiswa, di akhir sesion ki Joko "Edan" Hadiwidjoyo mendapat kenang-kendangan berupa 2 buah Buku Profil dan Pidato Pengukuhan Guru Besar FE UI dan Plakat dari BEM FE UI yang diserahkan langsung oleh Dekan FE UI Prof. Firmanzah, Ph.D.

 

Menurut Prof. Firmanzah, Ph.D , Dekan Termuda, di usianya yang baru 34 tahun, pelajaran yang dapat diambil dari lakon Wahyu Cakraningrat adalah mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu "kaweruh" (kesarjanaan) tetapi juga ilmu "ngerti" (Sujana), jadi akan sia-sia ilmu seseorang jika tidak diimbangi dengan keijaksanaan, ini sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini dimana banyak pemimpin yang pandai namun tidak ngerti dalam mengemban amanat rakyat. Beliau juga berterimakasih pada Ki Dalang Joko "Edan" Hadiwidjoyo pada pementasan kali ini disisipkan kritik sosial tentang kenegaraan, kemahasiswaan,  yang disampaikan secara humor segar dan komunikatif serta sehingga mudah dipahami.

FE UI, 9 Maret 2012

(sartono)

 

Thu, 22 Mar 2012 @14:02

Ki Djoko Siap Ngedan

Ki Djoko Siap Ngedan

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @15:11

Bupati Kudus ''Dilamar'' Dalang Kondang Joko Edan

Bupati Kudus ''Dilamar'' Dalang Kondang Joko Edan

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @15:07

''Ngaspal Suwarga'' Bareng Polisi

''Ngaspal Suwarga'' Bareng Polisi

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @15:02

Dalang Ki Joko ''Edan" Jadi Irup

Dalang Ki Joko ''Edan" Jadi Irup

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:59

Persenyawaan Wayang Kulit dan Wayang Orang

image

Persenyawaan Wayang Kulit dan Wayang Orang

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:50

Reuni Tukul dan Seni Tradisi

image

Reuni Tukul dan Seni Tradisi

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:46

"NDANG MULIHO, SRI...."

"NDANG MULIHO, SRI...."

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:29

Joko Edan Ramaikan Bursa Ketua Pordasi

Joko Edan Ramaikan Bursa Ketua Pordasi

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:27

Gelar Seni Anak Cinta Indonesia

Gelar Seni Anak Cinta Indonesia

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:07

Tembang Dolanan Tak Sekadar "Dolanan"

Tembang Dolanan Tak Sekadar "Dolanan"

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @14:04

Dalang Main Ketoprak, Kaku tapi Gayeng

Dalang Main Ketoprak, Kaku tapi Gayeng

selengkapnya...

Thu, 16 Feb 2012 @13:57

Copyright © 2014 www.harissemarang.com, o8122551665 · All Rights Reserved